Mitos Kecantikan

bagaimana standar fisik yang mustahil terus direplikasi

Mitos Kecantikan
I

Pagi ini, saat sedang sikat gigi, saya menatap cermin agak lama. Tiba-tiba mata saya tertuju pada satu kerutan halus di ujung mata. Lalu pandangan saya turun ke pori-pori di pipi. Dalam hati saya membatin, "Kok kulit saya nggak se-flawless orang-orang di media sosial, ya?"

Pernahkah kita mengalami momen seperti ini? Momen di mana kita merasa fisik kita seperti downgrade atau versi gagal dari "manusia normal" yang sering kita lihat di layar ponsel. Kita mencubit lemak di perut, meratapi bentuk hidung, atau merasa rambut kita terlalu lurus, terlalu keriting, terlalu mengembang.

Tapi mari kita berhenti sejenak dan berpikir kritis. Normal versi siapa yang sedang kita kejar ini? Kenapa kita seolah sepakat pada satu standar fisik yang sama? Mari kita bedah pelan-pelan fenomena ini bersama-sama.

II

Kalau kita melempar pandangan ke buku sejarah, standar fisik itu sebenarnya selalu berubah-ubah. Tapi, ada satu pola yang sangat konstan: rasa sakit dan pengorbanan.

Teman-teman pasti pernah dengar soal korset di era Victoria. Perempuan masa itu rela memakai alat yang bisa menggeser letak organ dalam mereka demi mendapatkan pinggang sekecil leher botol. Atau mari melongok ke tradisi foot binding di Tiongkok kuno. Tulang jari kaki anak-anak perempuan sengaja diremukkan dan diikat ketat demi mendapatkan ukuran sepatu yang mungil, karena itulah simbol keanggunan tertinggi saat itu.

Secara psikologis, manusia itu makhluk sosial yang sangat mendamba validasi. Dari kacamata evolusi, leluhur kita mencari sinyal kesehatan fisik pada pasangan agar keturunannya bisa bertahan hidup. Tubuh yang simetris atau kulit yang bersih dulunya adalah indikator bebas penyakit.

Tapi anehnya, kenapa sinyal bertahan hidup ini malah bermutasi menjadi praktik yang merusak tubuh kita sendiri? Ada jurang yang sangat aneh antara biologi murni dan budaya kita. Dan jurang ini menjadi makin gelap saat kita masuk ke era digital.

III

Di sinilah sains masuk dan menampar kita dengan realitas. Otak manusia itu luar biasa pintar, tapi ia punya satu kelemahan lucu yang disebut mere-exposure effect.

Sederhananya begini: makin sering kita melihat sesuatu, makin otak kita akan menganggap hal itu sebagai kebenaran, kelaziman, atau "standar normal". Dulu, di era pra-internet, kita hanya membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah atau teman sekelas. Peluang kita untuk merasa cukup dengan diri sendiri masih sangat besar.

Sekarang? Algoritma membombardir mata kita setiap detik. Kita disuapi jutaan wajah dengan asimetri sempurna, kulit rahang setajam pisau, glass skin tanpa pori, dan proporsi tubuh hasil rekayasa genetik (atau lebih seringnya, hasil editing).

Secara neurologis, amigdala di otak kita—pusat alarm kecemasan—terus menyala terang. Otak purba kita merasa terancam karena kita mengira kita tertinggal jauh dari "kawanan" kita. Kita merasa cacat. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya mendesain standar yang secara biologis tidak masuk akal ini? Kenapa standar ini sepertinya sengaja dibuat terus menjauh, tepat di saat kita merasa hampir mencapainya?

IV

Jawabannya mungkin terdengar seperti skenario film dystopia, tapi ini murni hitung-hitungan ekonomi dan kontrol sosial.

Penulis dan tokoh feminis Naomi Wolf pernah merumuskannya dengan sangat brilian melalui konsep The Beauty Myth atau Mitos Kecantikan. Rahasia paling besar dan paling gelap dari mitos ini adalah: standar fisik itu memang sengaja dirancang agar mustahil dicapai.

Coba bayangkan skenario ini. Bagaimana jika besok pagi, seluruh manusia di bumi tiba-tiba bangun dan merasa cantik, tampan, dan cukup dengan apa adanya diri mereka?

Perekonomian global akan goyah. Industri krim anti-aging bernilai triliunan dolar, klinik bedah estetika, obat penurun berat badan, hingga aplikasi filter berbayar akan kolaps seketika. Mitos kecantikan sebenarnya bukanlah tentang apresiasi estetika sama sekali. Ini adalah tentang menguras waktu, energi, dan uang kita.

Kelemahan biologi otak kita sengaja dibajak oleh mesin kapitalisme modern. Kita dibuat merasa selalu ada yang kurang, selalu ada yang harus diperbaiki, agar kita terus berlari di atas treadmill konsumsi yang tidak ada garis finisnya. Kesempurnaan fisik yang kita kejar itu hanyalah fatamorgana yang diproyeksikan oleh industri yang mendapat untung dari rasa insecure kita.

V

Menyadari fakta ini bikin saya menarik napas panjang. Rasanya lelah sekali, ya, teman-teman? Lelah karena kita, tanpa sadar, ikut melanggengkan siksaan batin ini terhadap diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.

Kita mungkin tidak akan bisa meruntuhkan industri raksasa ini dalam semalam. Standar kecantikan tidak akan hilang besok pagi. Tapi, kita punya kendali penuh atas lensa yang kita pakai untuk melihat diri kita sendiri.

Tubuh kita ini adalah sebuah keajaiban biologi yang luar biasa. Ia bernapas tanpa perlu disuruh. Ia menyembuhkan luka secara otomatis. Ia bisa memeluk orang-orang tersayang, berjalan melewati badai, dan membawa kita melewati hari-hari yang berat. Tubuh kita adalah instrumen kehidupan yang sakral, bukan sekadar ornamen pajangan untuk menyenangkan mata orang asing.

Jadi, besok pagi saat kita kembali menatap cermin, mari kita berlatih satu hal sederhana. Beri sedikit empati dan senyuman pada bayangan yang ada di sana. Sadari bahwa kerutan, pori-pori, dan segala ketidaksempurnaan kita bukanlah sebuah kegagalan. Ia adalah bukti yang sangat valid, bahwa kita adalah manusia seutuhnya yang sedang menjalani hidup, bukan boneka plastik etalase toko.